Kenaikan harga beras akan selalu terjadi?

Item Title

Harga beras, makanan pokok rakyat Indonesia, terus melambung sejak akhir Januari. Dan Presiden Jokowi kali ini tidak meresponsnya dengan blusukan ke pasar yang selama ini menjadi ciri khasnya, melainkan dengan meninjau penyaluran serentak raskin dan operasi pasar untuk menstabilkan harga. Namun pengamat menyebut, kenaikan harga akan selalu terjadi. Dalam kunjungannya di gudang Bulog Divisi Regional Jakarta-Banten, Presiden Jokowi memberikan jaminan bahwa stok beras tersedia untuk memenuhi permintaan pasar seberapa besarpun kebutuhan. Dikatakannya, pemerintah siap melakukan operasi pasar untuk menjaga harga beras. Ditegaskannya, saat ini stok beras yang ada di Badan Urusan Logistik (Bulog) mencapai 1,4 juta ton, cukup untuk memenuhi kebutuhan sampai panen raya April mendatang. Adapun operasi pasar itu dilakukan Rabu dan Kamis (25 dan 26/2), katanya karena harga beras mengalami kenaikan yang tidak wajar sekarang ini. "Kita mendekati panen raya tapi, pada bulan Februari ini, sudah ada kenaikkan harga beras yang tidak wajar. Oleh sebab itu hari ini kita lakukan operasi pasar," katanya seperti dikutip Kompas. "Untuk hari ini dan besok akan kita keluarkan kurang lebih 20.000 ton tapi berapapun yang dibutuhkan akan kita pasok," tandasnya. Faktor operasi pasar "Dengan operasi pasar ini diharapkan harga beras kembali pada posisi normal," tegas Jokowi pula. Namun peneliti INDEF, Sugiyono, meragukannya. Menurutnya, berdasarkan penelitian yang dia lakukan, operasi pasar hanya bisa menurunkan harga secara terbatas. Penimbunan dan spekulasi bukan faktor penentu tingginya harga beras. "Saya hitung, operasi pasar itu hanya efektif menurunkan harga sekitar 8,8 persen dari harga sekarang ini," jelas ekonom yang menulis tesis mengenai Politik Regulasi Beras itu. "Karena dampak operasi pasar itu lebih kecil dibanding faktor pendapatan per kapita, raskin, maupun proporsi konsumsi beras dalam ekonomi rumah tangga Indonesia." Ia menjelaskan, pendapatan per kapita masyarakat miskin terbantu oleh "kartu sakti" yang merupakan program Jokowi. Sementara faktor raskin --beras untuk rakyat miskin-- adalah faktor pengeluaran ketika Bulog melakukan operasi pasar. Mafia beras? Sugiyono juga menepis kemungkinan bahwa naiknya harga beras merupakan ulah para mafia dan spekulan, yang menumpuk beras untuk mendongkrak harga dengan tujuan agar pemerintah membuka keran impor beras. Proporsi konsumsi beras didorong juga naiknya pendapatan. Sugiyono memapar, dalam penelitiannya, faktor spekulasi penimbunan stok tidak terlalu menentukan dalam kenaikkan harga beras. "Saya menilai, faktor pendapatan per kapita meningkat oleh kartu-kartu Jokowi, peranannya cukup besar, membuat konsumsi naik termasuk konsumsi beras. Kemudian, ketika pemerintah mau menaikkan harga BBM, mereka menggelontorkan raskin. Jadi ada faktor pendapatan dan konsumsi beras yang naik." "Dan faktor ketiga yang membuat harga beras naik, kata Sugiyono, proporsi konsumsi untuk beras, masih sangat tinggi, terutama warga miskin." Ditegaskan Sugiyono persoalan harga beras ini akan selalu muncul dari waktu ke waktu. Khususnya menjelang panen raya. Mulai akhir tahun hingga menjelang April, saat Panen Raya. Dan yang diuntungkan oleh kenaikan harga, hanya pedagang, dan pengusaha serta petani besar. Sementara petani kecil yang kebanyakan memiliki lahan kurang dari 0,3 hektar, tidak pernah mendapat manfaat karena umumnya sudah menjual padi mereka kepada tengkulak dengan harga dasar jauh sebelum panen, dalam sistem yang populer disebut ijon. sumber : http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2015/02/150225_harga_beras

2 Komentar untuk berita Kenaikan harga beras akan selalu terjadi?

  1. pharmacy supplier 20 Maret 2018, Pkl. 12:54

    Very nice. http://www.indiapharmaexports.com/

  1. wisata 01 Desember 2015, Pkl. 11:58

    erimakasih sdh diijinkan untuk komentar ayo liburan

Tinggalkan Komentar